Dua Kalkulator Kehamilan Puisi Lucu & Romantis Kalimat/Ungkapan Indah Ucapan Selamat Malam Romantis Kata-2 GalauKoleksi Kata-Kata Gombal Mukio
Download Ringtone Lucu Gokil
Curhat Cewek Tentang Cowok
Punya Pacar vs LDR vs Jomblo
Alat Membuat Tulisan Gaul Alay
Alat Membuat Tulisan Terbalik
Daftar Semua Kategori:X
X
Ramalan Zodiak Hari Ini Kata Mutiara Cinta Kompilasi Lagu Nostalgia Cara Download Video Youtube Status Facebook LucuKumpulan SMS Cinta Romantis

Sekaten Budaya upacara Sekaten hanya ada di Indonesia, (*) namun meskipun hanya ada di Indonesia, adat kebudayaan ini terkait dengan Agama Islam, karena Even upacara sekaten ini selalu bersamaan dengan maulid nabi Muhammad SAW. Sedangkan Tumplak Wajik adalah salah satu bagian dari seremoni ini. Baiklah yuk kita simak tentang Sekaten, karena mungkin sebagian kawan netter hanya tahu sekilas saja tentang sekaten ini.

Upacara Sekaten (berasal dari kata Syahadatain) adalah acara peringatan ulang tahun Nabi Muhammad yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiulawal tahun Hijriah) di alun-alun utara Yogyakarta (dan juga di alun-alun Surakarta secara bersamaan). Upacara ini dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwono I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.

Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi Dalem (punggawa kraton) bersama-sama dengan dua set gamelan Jawa: Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendopo Ponconiti menuju masjid Agung di alun-alun utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton.

Kyai Nogowilogo akan menempati sisi utara dari masjid Agung, sementara Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton.

Grebeg Muludan

Sekaten Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 (persis di hari ulang tahun Nabi Muhammad s.a.w.) mulai jam 8:00 pagi. Dengan dikawal oleh 10 macam (bregodo/kompi) prajurit Kraton: Wirobrojo, Daeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, Mantrijero, Surokarso, dan Bugis, sebuah Gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan dan buah-buahan serta sayur-sayuan akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung.

Setelah didoakan Gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari Gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka.

Tumplak Wajik

Dua hari sebelum acara Grebeg Muludan, suatu upacara Tumplak Wajik diadakan di halaman istana Magangan pada jam 16:00 sore. Upacara ini berupa kotekan atau permainan lagu dengan memakai kentongan,lumpang untuk menumbuk padi, dan semacamnya yang menandai awal dari pembuatan Gunungan yang akan diarak pada saat acara Grebeg Muludan nantinya. Lagu-lagu yang dimainkan dalam acara Tumplak Wajik ini adalah lagu Jawa populer seperti: Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal awil, atau lagu-lagu rakyat lainnya.

Kontroversi Sekaten

Beberapa Ormas Islam mem-fatwa-i bahwa upacara sekaten ini adalah bid'ah (sesuatu yang diada-adakan) dan dilarang oleh agama. Namun karena budaya ini sangat kental dengan "Jawa" maka sampai sekarang masih dilaksanakan, dan ternyata cukup mengundang daya tarik bagi wisatawan mancanegara. Menurut paham santri yang lebih ke daerah pesisir utara Jawa (pemilahan menurut sejarah wali songo), budaya ini condong kearah budaya hindu-budha, dimana penganut Islam yang lebih ke pedalaman disebut "kaum abangan".

Komentar FacebookSembunyikanSelalu TampilkanJangan Pernah TampilkanStatus:
 

1 komentar terhadap "Sekaten, Tumplak Wajik dan Maulid Nabi Muhammad"

  1. menurut saya selama tidak ada esensi ritualnya yang dianggap esensi ibadah maghdom ya tidak bid'ah. Sekaten kan hanyalah sarana yang memakai beground budaya, ya selama di dalamnya tdk ada ritual yang melanggar syari'at dan aqidah ya boleh2 saja. Kalau sedikit2 bi'ah saya yakin yang ngomong bid'ah itu juga melakukan ribuan bid'ah. misal zaman nabi adzan tdk pakai pengeras suara, berarti yang pakai sarana pengeras suara juga bid'ah. Zaman nabi pergi haji naik onta, berarti yang menggunakan pesawat dan mobil juga bid'ah dll. he he he...Wallohua'lam bi shawab.

    BalasHapus

Links
About | Contact Us | Info Iklan | Privacy Statement | Disclaimer | Link to Us | Help | Whois | Ping  Sitemap
Copyright © 2009  Warung Bebas. Hosted on Blogger.Com Top
Warung Bebas