Dua Kalkulator Kehamilan Puisi Lucu & Romantis Kalimat/Ungkapan Indah Ucapan Selamat Malam Romantis Kata-2 GalauKoleksi Kata-Kata Gombal Mukio
Download Ringtone Lucu Gokil
Curhat Cewek Tentang Cowok
Punya Pacar vs LDR vs Jomblo
Alat Membuat Tulisan Gaul Alay
Alat Membuat Tulisan Terbalik
Daftar Semua Kategori:X
X
Ramalan Zodiak Hari Ini Kata Mutiara Cinta Kompilasi Lagu Nostalgia Cara Download Video Youtube Status Facebook LucuKumpulan SMS Cinta Romantis

Adjie Suradji kritik SBY Tulisan Adjie Suradji, yang berisi kritikan pada SBY di Kompas telah melahirkan banyak reaksi (*), dan tentu saja ada yang pro dan kontra, karena memang sudah hukum alam bahwa sebuah polemik selalu menjadi kontroversi. Tanggapan dan komentar atas keberanian Kolonel Adjie Suradji yang mengkritik SBY akhirnya bermunculan. Tulisan yang dimaksud berjudul "Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan" yang telah dimuat di kompas.com. Yang ingin membaca tulisan Kritikan Adjie Suradji untuk SBY, bisa dibaca dibawah.

Sebelumnya WarungBebas.Com akan berpendapat meski hanya pendapat seorang rakyat kecil, namun perlu diutarakan biar lega. Dari tulisan Adjie Suradji ada kalimat yang perlu digarisbawahi yaitu:

Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati.

Jujur setuju sekali dengan pendapat tersebut :-bd :-bd, bukan hanya karena masalah eksternal seperti kasus dengan Malaysia, namun juga keberanian "kedalam", yakni berani bertindak tegas pada internal para pimpinan rakyat. DAN ITU BUTUH KEBERANIAN.

Ah daripada kepanjangan mendingan langsung baca saja tulisan Kritikan Adjie Suradji pada SBY dibawah ini:

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan
Adjie Suradji

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan. Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati. Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional. Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus - hendaklah hukum ditegakkan - walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503-1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.

Quid leges sine moribus (Roma) - apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?

Keberanian

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati.

Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan. Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin - kepentingan rakyat - keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri. Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi? Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan.

Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela). Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya - dengan jargon reformasi gelombang kedua - SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya.

Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.

Adjie Suradji, Anggota TNI AU

Terlepas dari niat Adjie Suradi menulis, dinilai dari keberaniannya patut mendapatkan pujian =d>\m/, apalagi kalau memang niatnya demi rakyat. Bagaimana menurut Anda?

Komentar FacebookSembunyikanSelalu TampilkanJangan Pernah TampilkanStatus:
 

5 komentar terhadap "Tulisan Adjie Suradji, Kritikan Pada SBY di Kompas"

  1. Aku kira tulisan ini tentang hubungan indonesia malaysia ternyata tentang korupsi.

    seperti itu ya :) pemimpin popolis sepertinya ini yang lagi di jaga pak beye. tapi kalau dilihat keadaan sekarang ya.... sampe 2014 yakin deh tetep sama. :d

    BalasHapus
  2. @Social Bookmark: Wah master sudah datang, thanks kunjungannya...

    Eh blog ini bukan punya Albri mas, :D cuma theme memang bikinannya...

    BalasHapus
  3. Memang suatu yang tidak lazim jika prajurit mengkritik panglimanya, karena dalam sistem militer tidak ada yang namanya DEMOKRASI yang ada hanyalah sistem KOMANDO, bisa dibayangkan jika militer menganut demokrasi ? bisa kebobolan negeri ini, sebaiknya sang kolonel kalau mau memberikan masukan ya internal saja melalui pos-pos yang ada dalam tubuh militer tidak usah dipublikasi melalui koran nasional, tidak etis saja kelihatannya, kalau sang kolonel ingin BEBAS berbicara lebih baik tanggalkan dahulu seragam militernya alias pensiun jadi rakyat sipil baru bisa bebas, kalau militer ya taulah konsekunesinya, ya kan ? sudiono

    BalasHapus

Links
About | Contact Us | Info Iklan | Privacy Statement | Disclaimer | Link to Us | Help | Whois | Ping  Sitemap
Copyright © 2009  Warung Bebas. Hosted on Blogger.Com Top
Warung Bebas