Dua Kalkulator Kehamilan Puisi Lucu & Romantis Kalimat/Ungkapan Indah Ucapan Selamat Malam Romantis Kata-2 GalauKoleksi Kata-Kata Gombal Mukio
Download Ringtone Lucu Gokil
Curhat Cewek Tentang Cowok
Punya Pacar vs LDR vs Jomblo
Alat Membuat Tulisan Gaul Alay
Alat Membuat Tulisan Terbalik
Daftar Semua Kategori:X
X
Ramalan Zodiak Hari Ini Kata Mutiara Cinta Kompilasi Lagu Nostalgia Cara Download Video Youtube Status Facebook LucuKumpulan SMS Cinta Romantis

sanggahan buku gurita cikeasKembali polemik terjadi dan tidak hanya terjadi di media surat kabar atau portal berita, melainkan sudah saling membalas dengan buku. Sebuah buku berjudul 'Hanya Fitnah dan Cari Sensasi: George Revisi Buku' telah diluncurkan pada hari Rabu 6 Januari 2010, pukul 14.00. Buku itu berisi kritik atas buku 'Membongkar Gurita Cikeas: di Balik Kasus Bank Century' karangan George Junus Aditjondro.

Buku "Hanya Fitnah dan Cari Sensasi" ini ditulis oleh Setiyardi Negara. Buku ini merupakan Buku Tandingan Membongkar Gurita Cikeas. Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargens, balik mengkritik buku Setiyardi. Menurutnya, buku yang secara tidak langsung menuding George membuat fitnah dan sensasi itu tak ubahnya sebuah sensasi.

"Kalau buku George dianggap keliru, silakan buktikan buku George tidak benar, jangan keluarkan buku seperti ini, ini sama saja cari sensasi atau bisa juga cari muka untuk yang dirugikan," kata Boni dalam perbincangan di tvOne, Rabu, 6 Januari 2010.

Setiyardi sendiri membantah kalau buku Hanya Fitnah dan Cari Sensasi yang secara resmi diluncurkan tersebut sebagai tandingan buku 'Membongkar Gurita Cikeas: di Balik Kasus Bank Century'. Materi yang tertuang dalam buku setebal 31 halaman itu hanya untuk menunjukkan sejumlah kelemahan yang termuat dalam buku karya George.

Menurut Setiyardi, buku kontroversial yang diluncurkan Desember 2009 itu memuat sejumlah kelemahan dari sisi metodologi penulisan dan konten. Menurutnya, George banyak membuat kesimpulan berdasarkan data sekunder tanpa melakukan konfirmasi.

Sebab itu, dalam buku 'Hanya Fitnah dan Cari Sensasi: George Revisi Buku', Setiyardi tidak melakukan investigasi ulang untuk memperbaiki buku George. Setiyardi hanya memberikan penilaian atas tulisan yang dibukukan oleh George. "Kalau saya ingin buat buku tandingan, saya tidak berkompeten. Saya bukan yang ditulis George," ujarnya.

Tiga Pokok Bantahan atas Buku Gurita Cikeas

Setiyardi Negara mengklasifikasi isi buku George Junus Aditjondro dalam tiga hal yakni soal jaringan bisnis Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya, pemanfaatan jaringan untuk pemenangan Pemilu dan Pemilihan Presiden dan keterkaitan SBY dan jaringannya dengan kasus Bank Century.

Bisnis Keluarga

Salah satu yang dibantah Setiyardi adalah masalah kaitan Ani Yudhoyono dengan promosi batik Allure. George menulis "ada potensi konflik kepentingan Ani Yudhoyono sebagai pembina yayasan dan perusahaan batik baru yang telah mengorbitkan anak dan cucunya sebagai ikon."

Setiyardi menilai pernyataan George itu spekulasi penulis. "Tidak ada sumber referensi yang akurat sebagai pendukung pernyataan tersebut, karena itu harus dikesampingkan," ujar Setiyardi. Setiyardi menulis, publik tahu Batik Allure berawal dari sebuah garasi di Simprug, Jakarta, dengan modal awal Rp 100 juta. Ade Kartika, pemilik Allure, bekerja keras untuk membesarkan produk asli Indonesia ini.

"Bukankah tugas setiap warga negara, apalagi sebagai ibu negara untuk mempromosikan karya anak bangsa," ujar Setiyardi. "Dan setiap produsen yang ingin mempromosikan barang dagangannya pasti akan menggunakan bintang iklan yang layak jual," ujar Setiyardi.

Jaringan Pemenangan Pemilu & Pilpres

Pada halaman 29 buku Gurita Cikeas, George menuding Rully Iswahyudi sebagai pengelola Bravo Media Center, pusat penerangan Tim Kampanye Calon Presiden SBY-Boediono dalam Pemilihan Presiden lalu. "Rully Ch Iswahyudi, selain menjadi Direktur Komersial & IT Perum LKBN Antara, ia juga ikut mengelola Bravo Media Centre," tulis George.

Setiyardi mengkritik, seharusnya pada bagian ini, George yang meraih gelar doktor dari Cornell University, Amerika Serikat, itu melakukan cek silang kepada yang bersangkutan. "Masyarakat tahu persis, seorang Rully tak pernah menjadi anggota apalagi pengelola BMC," ujar Setiyardi. Rully, kata Setiyardi, juga telah membantah tudingan itu, menyatakan tidak pernah menjadi anggota atau pengelola BMC di sebuah stasiun televisi.

Kaitan dengan Bank Century

George antara lain menulis dalam buku "Membongkar Gurita Cikeas: di Balik Skandal Bank Century" bahwa terdapat yayasan-yayasan yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi SBY atau keluarganya. Setiyardi lalu mengingat ke belakang temuan George yang dilansir dalam buku "Korupsi Kepresidenan di Masa Orde Baru".

Dalam buku itu, George melihat salah metode korupsi adalah melalui yayasan. Dalam buku itu terdahulu itu, kata Setiyardi, George berhasil menunjukkan praktik korupsi abuse of power melalui Keputusan Presiden yang memerintahkan penyetoran dana publik ke yayasan tertentu.

"Nah, dalam buku Membongkar Gurita Cikeas, George bukan hanya gagal menunjukkan fakta otentik soal abuse of power dalam pendirian yayasan, tetapi juga gagal memberi bukti SBY memanfaatkan dana bail out Century dan penggunaan dana BUMN untuk menjadi logistik kemenangannya," ujar Setiyardi.

George hanya mengutip sebuah berita bahwa ada aliran dana dari seorang konglomerat kepada sebuah yayasan yang dipimpin orang dekat SBY. Namun berita itu hanyalah data sekunder, tanpa ada verifikasi kepada pengurus dan pengelola yayasan tersebut.

Tentang Penulis Buku Tandingan Gurita Cikeas

Siapakah Setiyardi Negara? Di bagian akhir bukunya yang dicetak dengan kertas glossy, Setiyardi mengaku dilahirkan di Lampung, 30 Maret 1971. Sejak kuliah di Universitas Gadjah Mada, Setiyardi aktif menulis di pers mahasiswa.

setiyardi negara
Setiyardi Negara

Karir wartawannya dimulai di Tabloid Politik Paron (1996-1997), kemudian setelah Reformasi, bergabung dengan Majalah Tempo (1998-2006). Sempat mengikuti program Religious Freedom and Pluralism di beberapa kota di Amerika Serikat (tahun 2004), lalu pada tahun 2007, Setiyardi keluar dari Tempo dengan mendirikan perusahaan konsultan media dan penerbit bernama Senopati Media.

Senopati Media ini juga yang menerbitkan majalah "69++ Magazine". Seperti dilansir di situs resmi Senopati Media, 69++ Magazine menghadirkan liputan lifestyle & shopping. Majalah ini juga mengakomodir liputan “serius” untuk memuaskan kebutuhan informasi yang bermutu dan lugas. Untuk memperkaya rubrik majalah, 69++ menghadirkan 3 orang kontributor tetap setiap bulannya, antara lain: Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, dan Seno Joko Suyono.

Majalah ini menggunakan strategi pasar dengan tidak menjual majalah ke publik, tetapi dengan membagikan majalah kepada pembaca yang sesuai dengan target pasar, tanpa mengenakan biaya apapun kepada pembaca. 69++ dicetak sebanyak 10.000 eksemplar setiap bulannya dan didistribusikan di wilayah Jabodetabek, Bandung, dan kota-kota besar lainnya.

Sementara motivasi Setiyardi menulis buku tandingan ini, untuk bisnis. "Ini gabungan antara bisnis dan kesenangan. Saya berharap buku saya laku keras," katanya. "Saya berharap ini menguntungkan buat perusahaan saya. Dan buku ini juga bisa menjadi alternatif informasi buat publik. Jadi, dunia dan akhirat dapat," ujarnya.

Sayangnya belum menemukan download buku/ebook Hanya Fitnah dan Cari Sensasi - George Revisi Buku, karena memang baru saja diluncurkan. Kalau nanti sudah menemukan pasti diinformasikan juga di Warung Bebas.

Komentar FacebookSembunyikanSelalu TampilkanJangan Pernah TampilkanStatus:
 

1 komentar terhadap "Resensi Buku "Hanya Fitnah dan Cari Sensasi - George Revisi Buku""

  1. sebenernya yang cari sensasi tu yang mana ya??
    tambah bingung kalo gini ceritanya...
    :(( :(( :((

    BalasHapus

Links
About | Contact Us | Info Iklan | Privacy Statement | Disclaimer | Link to Us | Help | Whois | Ping  Sitemap
Copyright © 2009  Warung Bebas. Hosted on Blogger.Com Top
Warung Bebas